Minggu, 11 April 2021
1 2 3 4 5 6

POLITEKNIK NEGERI INDRAMAYU
Industrial Based Education
  • English
  • Francish
  • Search
    Transformasi Vokasi: Program Diploma Tiga Ditingkatkan Menjadi Sarjana Terapan

    Jakarta, 16 Februari 2021 --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi) menggelar Webinar Peningkatan Program Diploma Tiga (D-3) menjadi Sarjana Terapan atau Diploma Empat (D-4) secara virtual, Selasa (16/2). Acara itu dihadiri oleh para pemimpin perguruan tinggi vokasi (PTV) di seluruh Indonesia serta pelaku industri dan usaha. Kebijakan ini merupakan bagian utama transformasi pendidikan vokasi.

    Peningkatan program studi D-3 menjadi sarjana terapan harus memenuhi beberapa syarat, di antaranya adalah PTV memiliki Program D-3 terakreditasi minimal peringkat B atau baik sekali serta memiliki kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Selain itu, PTV juga wajib memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh Ditjen Diksi, seperti mempersiapkan kerja sama dengan DUDI, mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, kurikulum yang kolaboratif dengan DUDI, serta regulasi akademik yang mendukung. Peningkatan D-3 menjadi sarjana terapan bersifat opsional (tidak wajib) dan disesuaikan dengan kebutuhan link and supermatch dengan DUDI.

    Pada kesempatan itu, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi), Wikan Sakarinto menyatakan bahwa pada prinsipnya untuk meningkatkan (upgrade) D-3 menjadi sarjana terapan, harus dilakukan bersama DUDI dengan skema taut suai (link and match) 8 + i. “Di antaranya mencakup kurikulum yang disusun bersama dan berstandar DUDI; sertifikasi kompetensi guru, dosen, dan peserta didik yang sesuai standar dan kebutuhan DUDI; project based learning; menghadirkan ahli dari industri secara rutin untuk mengajar; dan seterusnya,”paparnya.

    Adapun industri yang menjadi pengguna (user) lulusan, boleh berupa usaha mikro kecil menengah (UMKM), kecil, besar, maupun pemerintah daerah. Wikan menekankan bahwa kebersamaan harus dibangun antara PTV dan DUDI. “Paket menu link and match pada intinya adalah keterlibatan DUDI dalam semua aspek penyelenggaraan pendidikan vokasi. Kita “masak bersama” menu yang dibutuhkan industri,”ujar Wikan.

    Lebih lanjut, Wikan menjelaskan bahwa huruf “i” pada skema 8+i ini, dapat bermacam-macam. Misalnya, beasiswa/ikatan dinas dari industri, atau super tax deduction yang merupakan motor luar biasa bagi vokasi. “Kita sudah punya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 128 Tahun 2019 tentang Pemberian Pengurangan Penghasilan Bruto atas Penyelenggaraan Kegiatan Praktik Kerja, Pemagangan, dan/atau Pembelajaran dalam rangka Pembinaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Berbasis Kompetensi Tertentu; maka insentif pemotongan pajak ini adalah peluang besar bagi kampus vokasi meningkatkan D-3 menjadi sarjana terapan. Intinya, buatlah Program Sarjana Terapan, tapi lakukan bersama industri,”ungkapnya.

    Insentif bagi PTV dikatakan Wikan merupakan peringkat akreditasi. “Kemungkinan akan tetap tergantung dari tingkat kesiapan, nama Program Studi Sarjana Terapan disesuaikan dengan nomenklatur, mahasiswa D-3 saat ini (existing) statusnya akan berubah menjadi mahasiswa D-4,”tambahnya seraya menerangkan bahwa kelak saat lulus, mahasiswa tersebut bergelar Sarjana Terapan (S.Tr).

    Anggota Tim Pakar Pengembangan Kelembagaan Vokasi Suhendrik Hanwar menjelaskan bahwa jika PTV diberikan izin meningkatkan program D-3 menjadi D-4, maka diharapkan ke depan akreditasi prodi D-3 dan D-4 akan sama. Selanjutnya, PTV yang mengajukan peningkatan akan dievaluasi kelayakannya oleh Ditjen Diksi. Kemudian, apabila sudah memenuhi syarat, Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) akan melakukan pengawasan (surveillance).

    “Keuntungan program ini adalah peringkat akreditasi boleh jadi tetap, apabila prodi yang diusulkan peringkat akreditasinya A, dan kalau memenuhi syarat, D-4-nya berakreditasi A. Kalau ada yang di bawah itu, akan disesuaikan oleh BAN-PT dalam waktu tertentu, agar akreditasinya dapat sama dengan prodi sebelumnya. Kita tetap berharap, antara akreditasi D-3 dengan D-4 sama,”tutur Suhendrik.

    Perguruan Tinggi Vokasi Harus Mampu Menjawab Tantangan Upgrading

    Menurut Dirjen Wikan, perubahan zaman harus mampu disikapi dengan adaptasi yang tinggi. Lulusan D-4 harus kompeten, baik secara kognitif, keterampilan nonteknis (soft skills), dan integritasnya. Hal Ini resep yang dinilainya harus ada dalam kurikulum D-4. Maka, pengembangan kurikulum harus berfokus pada karakter. “Jangan hanya (berkutat) di keterampilan teknis (hard skills) saja karena yang dibutuhkan industri adalah pemimpin-pemimpin di lapangan,”tegas Wikan.

    Ia menekankan beberapa aspek keterampilan nonteknis (soft skills) yang dibutuhkan lulusan masa kini seperti kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama. Ia pun memastikan bahwa proporsi pembelajaran vokasi tetap 60% praktek dan 40% teori. Oleh karena itu, Wikan mengimbau para pemimpin kampus vokasi untuk memastikan bahwa keluaran kampus tidak hanya makalah (paper) penelitian, melainkan produk nyata. “Namun, dari awal input-nya juga penting. Kalau tidak ada niat dan passion, menu D-4 seperti apapun tidak akan sukses. Maka, D-4 harus giat promosi, rebranding, dan edukasi kepada calon mahasiswa, orang tua, dan industri,”imbau Wikan.

    Wikan Sakarinto mendorong para pemimpin kampus vokasi “merancang” D-4 bersama industri selaku calon pengguna (user) lulusan. Dengan demikian, lulusan vokasi semakin dikenal karena perguruan tinggi turut mengedukasi masyarakat tentang pendidikan vokasi. Menurutnya, ketika semua politeknik dan kampus vokasi bergerak meningkatkan (upgrade) diploma tiga ke diploma empat maka industri akan menyadari dan tertarik. “Ayo kita buat (vokasi) lebih baik, jangan hanya ingin membikin ijazah diploma empat atau ijazah S-1 Terapan. Saya harap, niat bapak dan ibu membuat D-4 bukan hanya untuk asal lulus atau berjualan prodi,”tutur Wikan.

    Setidaknya, Wikan berkeinginan ada 50% mahasiswa D-4 masa depan yang berprestasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), olahraga, seni, dan debat. “Mahasiswa jangan hanya mengejar indeks prestasi kumulatif (IPK). “Kita ingin menciptakan pemimpin masa depan, dan ini butuh mahasiswa yang kritis dan kreatif,” harapnya.

    Selanjutnya, kepada para pimpinan PTV agar tidak hanya berfokus pada kompetisi keterampilan teknis (hard skills) saja. Namun, pada aspek kognitif dan keterampilan nonteknis (soft skills) mahasiswa, sehingga mereka memiliki kemampuan yang memang dibutuhkan DUDI. “Mindset hanya hard skills mohon ditinggalkan. Kita sudah ketinggalan zaman, kita terkotak di masa lalu, bahwa vokasi bikin tukang itu salah. Vokasi bikin pemimpin, kreator, inovator. Kita menghasilkan ahli dengan level tinggi, desainer yang solutif di dunia nyata. Makanya, nanti kurikulum semester satu di D-4 itu benar-benar penguatan soft skills dan hard skills yang seimbang,”tuturnya.  

    Perbedaan utama D-4 dan S-1 adalah porsi praktik yang lebih besar ketimbang teori, walaupun kedua jalur tersebut mewajibkan peserta didik merampungkan 144 sistem kredit semester (SKS). Wikan mengakui, bahwa lulusan D-4 memiliki kelebihan yaitu perolehan project protfolio, serta pengasahan keterampilan nonteknis (soft skills) dan keterampilan teknis (hard skills) yang kuat, selain ijazah dan transkrip. “Dalam piramida dunia kerja, D-4 lebih banyak dibutuhkan daripada S-1. Namun, D-4 dan S-1 sama labelnya dalam KKNI yaitu level 6 KKNI,”ucap Wikan mengingatkan.

    Respons Industri terhadap Transformasi Vokasi  

    Pada masa yang akan datang, kebijakan pendidikan vokasi tidak akan diarahkan untuk D-3. Fokus vokasi akan berpusat pada penguatan SMK, D-2 jalur cepat (fast track), D-4, magister terapan, dan doktor terapan. Hal tersebut ditegaskan Dirjen Diksi karena ia mengakui perlu kerja sama seluruh pihak untuk terus menyosialisasikan dan memperkenalkan profil dan manfaat Program D-4, baik kepada calon mahasiswa, orang tua, dan industri terkait. “Ayo kita lakukan bersama. Rencana saya buat seribu surat kepada seribu perusahaan di Indonesia untuk memperkenalkan D-4,”ujarnya antusias.  

    Senada dengan itu, hadir dari perwakilan industri, Presiden Direktur PT Astra Graphia Tbk., Hendrix Pramana menyatakan bahwa industri membutuhkan talenta-talenta yang sesuai dengan inti bisnis. “Contohnya, perusahaan kami yang bergerak di bidang teknologi informasi,”kata Hendrix. Astra Graphia Tbk. merupakan anak perusahaan PT Astra Internasional yang 77% sahamnya dimiliki Astra Internasional dengan 33 cabang operasi dan 93 poin layanan dari Sabang hingga Merauke.

    “Dalam mencari talenta, kami melihat tiga hal, yaitu hard skills atau kemampuan terkait industri spesifik tersebut. Dalam dunia IT, kami membutuhkan orang yang menguasai kecerdasan buatan, pembelajaran mesin (machine learning), komputasi awan (cloud computing), dan sebagainya. Pengetahuan ini dibutuhkan untuk mendukung peran teknologi informasi di perusahaan, tetapi itu tidak cukup,”kata Hendrix.

    Menurutnya, pada era 4.0 ini semakin dibutuhkan talenta-talenta dengan penguasaan keterampilan nonteknis (soft skills) mumpuni seperti kemampuan memecahkan masalah yang kompleks dan berpikir kritis untuk menjawab tantangan serta memberikan solusi kepada pelanggan. Talenta yang inovatif, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif sangat dibutuhkan sebagai project manager, konsultan, dan insinyur. Selain itu, mereka juga harus memiliki jiwa kepemimpinan dan kemampuan mengelola dinamika kelompok, khususnya di bidang teknologi informasi dibutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak.

    Aspek terakhir yang amat dibutuhkan adalah sikap dan nilai-nilai (attitude and values), dan ini berkaitan dengan integritas. “Integritas termasuk pentingnya rasa ingin tahu, adaptasi, dan orientasi terhadap pelayanan,”ujar Hendrix yang menilai tiga aspek ini saling berkaitan dan dibutuhkan secara seimbang.

    Pada kesempatan yang sama, Ketua Forum Direktur Politeknik Negeri se-Indonesia (FDPNI), Zainal Arief menyampaikan masalah yang ditemukan pada keterserapan lulusan ada dua yaitu pengangguran terstruktur dan pengangguran gesekan. “Pengangguran terstruktur adalah keadaan di mana lapangan kerja yang tersedia terbatas dan ada pencari kerja yang belum mendapatkan kerja. Solusinya adalah dengan menambah investasi dan menciptakan lapangan kerja baru,”kata Zainal.

    Menurut Zainal, yang menantang transformasi pendidikan vokasi adalah pengangguran gesekan, yaitu adanya ketidaksesuaian antara kualifikasi pencari kerja yang tersedia dengan lapangan kerja yang ada. Kualifikasi pencari kerja tidak sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja. “Ini dapat diatasi dengan penyelerasan pendidikan dengan dunia kerja,”ucapnya.

    Zainal berharap, program ini dapat berjalan dengan baik. “Untuk lulusan PTV yang belum terserap optimal dalam pasar kerja maka peran transformasi pendidikan vokasi adalah menutup ketimpangan (closing the gap) dari politeknik dengan industri lewat penguatan hubungan dengan DUDI, agar talenta kita sejalan dengan kebutuhan industri,”harap Zainal.

    Informasi lebih lanjut mengenai program ini, dapat mengakses laman resmi Sistem Informasi Layanan Perizinan Kelembagaan Perguruan Tinggi (Silemkerma) pada tautan silemkerma.kemdikbud.go.id.

    #pendidikanvokasi
    #kampusmerdeka
    Sumber : Siaran Pers Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor : 35/sipres/A6/II/202121
    Laman: kemdikbud.go.id



    Post by - Admin
    Tanggal - 18/02/2021
    Politeknik Indramayu 'Industrial Based Education'
    Berita Lainnya




    Kip Kuliah Merdeka: Akses Pendidikan Tinggi Semakin Merata Dan Berkualitas
    Dorong Akselerasi PTM, Pemerintah Umumkan SKB Empat Menteri
    Dorong Kreativitas Mahasiswa Vokasi, Kemendikbud Kembangkan Program Kreativitas Mahasiswa Tahun 2021
    Selamat Kepada Kontingen Politeknik Negeri Indramayu Dalam Ajang BIMAGE Competition Atas Capaiannya Meraih 4 Medali Emas, 3 Medali Perak, Dan 1 Medali Perunggu
    Pengumuman Hasil Seleksi Snmptn 2021
    Testimonial Alumni

    Nama saya IRWANTO alumni Teknik Pendingin POLINDRA, Saya mendapatakan tawaran dari dinas perikanan dan kelautan Prov. Jabar Sub Unit Cola Storage Karangsong Indramayu setelah mekasanakan PPI (Program Praktek Industri) Semester V di POLINDRA dan sampai sekarang saya masih bekerja ditempat tersebut.
    Nama saya TURYADI lulusan Teknik Mesin POLIDRA, sekarang saya bekerja sebagai Engineering Trainee di PT. MORITA TJOKRO GEARINDO. Salam Sukses.
    Bhayu Septian Jurusan Teknik Informatika, dengan mutu pendidikan yang berkualitas sehingga saya bisa bersaing di dunia kerja. sampai sekarang saya masih bekerja di ,,,, sebagai ,,,,.
    Saya Hadi Prayitno alumni POLINDRA jurusan Teknik Pendingin & Refrigerasi, saya bekerja sebagai Teknisi TP di POLINDRA mulai saya lulus sampai sekarang. teimakasih POLINDRA.
    Heru Hermawan dari jurusan Teknik Informatika POLINDRA, setelah lulus saya langsung sekarang bekerja sebagai Teknisi Jaringan di BANK Danamon Jakarta.

    Penerimaan Beasiswa Bidikmisi 2015

    Politeknik Negeri Indramayu memberikan kesempatan kepada putra putri terbaik...

    Live Youtube Webinar" Informasi Pendaftaran Kip-kuliah"
    Live Youtube "kupas Tuntas Informasi Pendaftaran Mahasiwa Baru Politeknik Negeri Indramayu 2021/2022"
    Informasi Snmptn 2021 Politeknik Negeri Indramayu

    All Agenda »

    Kalender Akademik Polindra 2013/2014

    Sehubungan akan dimulainya Tahun Akademik baru 2013/2014, dengan ini kami sampaikan bahwa Kalender Akademik dan Jadwal Kegiatan Akademik 2013/2014 bisa diunduh pada...

    Pengumuman Hasil Seleksi SNMPN 2021
    Penyelenggaran Pembelajaran Semester Genap Ta 2020/2021 Politeknik Negeri Indramayu
    Pengumuman Antisipasi Penyebaran Wabah Virus Covid-19

    All Pengumuman »

    Kontak Kami

    Jl. Raya Lohbener Lama No. 08 Indramayu 45252 Fax / Tlp. (0234) 5746464

    Follow Us

    Jurusan

    Link Terkait

    © 2010 - 2021 All Right Reserved SIM POLINDRA
    Politeknik Negeri Indramayu